Passion Calling
Blog ini berisikan tentang pengembangan diri dengan basis pada PassionCalling... Setiap kita memiliki ruang untuk terus bertumbuh dan berkembang dan kita telah memiliki sumberdaya internal untuk memulai pengembangan diri ini dan membuat dampak positif untuk sesama, dunia dan semesta
Kamis, 24 Oktober 2024
Tinggal dimanakah kita? di Masa Lalu, Sekarang atau di Masa Depan?
kita bisa mengamati perilaku dan cara berpikir seseorang untuk memahami apakah mereka cenderung tinggal di masa lalu, masa sekarang, atau masa depan. Setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda dalam menanggapi waktu, dan hal ini bisa terlihat dari bagaimana mereka menghadapi kehidupan sehari-hari.
- Tinggal di Masa Lalu:
- Perilaku: Seseorang yang cenderung tinggal di masa lalu sering kali terjebak dalam kenangan lama, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan. Mereka mungkin terus-menerus membicarakan pengalaman masa lalu, meromantisasi kesuksesan sebelumnya, atau merasa menyesal atas kegagalan.
- Cara berpikir: Mereka cenderung menolak perubahan dan sulit melepaskan kenangan buruk atau trauma. Orang yang tinggal di masa lalu bisa merasa sulit memaafkan diri sendiri atau orang lain, dan ini sering kali menghambat kemajuan mereka.
- Ciri khas: Perasaan nostalgia yang berlebihan, rasa bersalah, atau kekecewaan yang mendalam karena keputusan masa lalu yang tidak bisa diubah.
- Tinggal di Masa Depan:
- Perilaku: Seseorang yang fokus pada masa depan mungkin terus-menerus merencanakan apa yang akan terjadi, memikirkan potensi risiko atau hasil, dan menghabiskan waktu untuk mencemaskan apa yang belum terjadi. Mereka bisa sangat ambisius, tetapi juga bisa menjadi tidak sabar dengan kondisi saat ini.
- Cara berpikir: Mereka sering kali terlalu sibuk merencanakan atau mengantisipasi masa depan sehingga kehilangan kesempatan untuk menikmati momen sekarang. Kecemasan tentang ketidakpastian bisa menguasai mereka, dan mereka bisa merasa tidak pernah siap atau cukup baik untuk masa depan.
- Ciri khas: Terlalu fokus pada pencapaian, perencanaan berlebihan, kecemasan tentang hal-hal yang belum terjadi, dan sering kali tidak menikmati pencapaian saat ini.
- Tinggal di Masa Sekarang:
- Perilaku: Seseorang yang hidup di masa sekarang cenderung lebih mindful, fokus pada apa yang sedang terjadi di sekitar mereka, dan memiliki kesadaran penuh tentang tindakan mereka. Mereka lebih menerima kenyataan, tidak terlalu terikat pada masa lalu atau terlalu khawatir tentang masa depan.
- Cara berpikir: Mereka sering kali lebih optimis dan seimbang, menikmati momen sekarang tanpa mengabaikan tanggung jawab masa depan. Mereka bisa menerima perubahan dan adaptif terhadap situasi yang terus berkembang.
- Ciri khas: Ketentraman, kemampuan untuk menikmati momen kecil dalam hidup, tidak terlalu khawatir tentang apa yang sudah berlalu atau apa yang belum datang, serta lebih bijaksana dalam pengambilan keputusan.
Cara seseorang menghadapi waktu—baik itu masa lalu, masa sekarang, atau masa depan—bisa berdampak pada bagaimana mereka menjalani hidup. Seseorang yang seimbang akan mampu belajar dari masa lalu, merencanakan masa depan, namun tetap hadir dan menikmati momen sekarang. Keseimbangan ini sering kali membawa kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup.
Rabu, 15 April 2020
Sikap Batin: Acceptance, Surrender, Follow the Voice
kita dihadapkan pada banyak kejadian... dan kita memiliki mekanisme yang jelas tentang benar salah, boleh nggak boleh, baik buruk, iya tidak... mekanisme primitif itu terjadi secepat kilat... terlebih lagi ketika ada dalam kondisi yang terdesak, mepet.... kita membuat keputusan secara otomatis...
yang otomatis itu (sejatinya) terjadi dalam proses yang panjang... untuk sampai pada perilaku otomatis itu. Tersusun atau disusun seringkali tidak dalam kesadaran penuh
Bagaimana menyelaraskan atau membuat kondisi ketiga bagian diri kita: pikiran, perasaan dan tubuh menjadi harmoni?
(berlanjut)
Surrender (2)
(menyerah)
Setelah kita menerima (lawan dari menolak) kita masuk kepada sikap batin ke dua: Menyerah.
Menyerah adalah sikap batin yang kita lakukan dengan kesadaran. Entah karena karena tidak bisa melawan, entah karena nggak ada pilihan lain, entah karena alasan apapun.... namun itu semua dilakukan dengan kesadaran.
Menyerah pada apa yang terjadi. menerima kejadian atau fakta sebagai apa adanya. Melepaskan semua penghakiman diri. No Judgement State. Dan jika merasakan adanya godaan untuk menghakimi diri.... sadari saja... lalu ikuti kemana larinya penghakiman itu: aku yang malang, aku yang bodoh, aku yang lemah.... lihat saja ketika diri kita menghakimi diri kita yang lainnya.
lalu lihatlah diri yang sedang menghakimi diri yang lain... lihat dengan kehangatan ... rasakan amarahnya, rasakan ketidakterimaannya... rasakan apa yang sedang berkecampuk dalam diri lalu berikan rasa cinta kepadanya... peluklah dia....
rasakan setiap diri Anda menjadi selaras... kemarahan diterima, kehangatan diterima...
menerima lalu menyerahkan diri secara total....
(berlanjut)
Minggu, 12 April 2020
Mengapa Afimasi berhasil?
harmonis...
selaras...
NYAMAN.... ada apa dengan nyaman? bukankah kita "diminta" untuk menghindari rasa nyaman ini? bukankah ini yang akan membelenggu kita untuk tidak bergerak kemana mana?
Keharmonisan... keselarasan... kenyamanan dibutuhkan untuk membuat kondisi meomentum terjadi.... lalu melesat memasuki kondisi baru.... dan menciptakan keadaan baru yang lepas dari kenyamanan titik awal tadi....
(dilanjutkan)
Jumat, 06 April 2018
Waktu
kita telah memboroskan begtu banyak waktu efektif kita untuk sesuatu yang tidak efektif.
kita telah membuang banyak waktu
dan kita masih merasa memiliki banyak waktu
ini adalah lobang terbesar kita dalam pertumbuhan akan pemenuhan tujuan kelahiran kita di muka bumi ini.
semoga kita semakin mampu menggunakan waktu dengan efektif dan memberdayakan.
marilah kita renungkan:
apa yang penting bagi kita
apa yang sungguh-sungguh penting bagi hidupku?
https://www.facebook.com/Paulustriwahyudi